Punya anak 3, mengajarkan beberapa pengalaman berbeda bagi saya. Sifat ketiganya nyaris tidak ada yang sama. Yang satu keras, yang lain bisa saja penyayang atau malah sangat perasa. Perbedaan itu membuat orang tua dalam hal ini saya sendiri juga memperlakukan mereka agak berbeda dalam beberapa kondisi tertentu.

Menunjukkan dan mengungkapkan rasa sayang pada mereka pun tidak boleh sama besarnya. tidak bisa dengan cukup mengatakan “ Bunda sayang kalian semua, besarnya sayang bunda ke mbak lala, caca dan mio itu sama”.

Dan reaksi ‘kurang diharapkan’ akan keliatan jelas pada ekspresi wajah anak-anak, setelah kalimat itu meluncur dari bibir saya.

Kalau pakai cara di atas, wajah mereka senang sih tapi standard banget. Seakan wajah mereka menggambarkan kalimat. “ Oh gitu ya , oke bunda sayang sama aku tapi bunda nggak tahu aku tuh beda sama yang lain”.

Jadi seakan ucapan kita dianggap hanya basa basi belaka yang ibu manapun di dunia pasti sayang sama anaknya.

Oke, ganti strategi.

Besok-besoknya saat waktu bermanja-manja datang ( ini waktunya unpredictable sih, jd bisa kapan aja dimana aja . pastinya tiap hari hehe ) dan masing-masing mulai memamerkan hasil karyanya ( kadang lagu, tarian, lukisan, gambar mewarnai, play doh, surat cinta dll) maka tibalah pada sesi bunda nya yang akan menilai dan mengungkapkan perasaan haru birunya.

“Anak Bunda hebat-hebat semua. EH tahu nggak kenapa Bunda tuh sayangnya ga akan pernah habis sama kalian? Kayak kuku kita niih yang kalopun di potong pasti akan tumbuh lagi tumbuh lagi dan lagi.”

“Kenapa Bunda?”

“ Karena kalian tuh hebat dan unik. Unik, masing-masing pinternya beda. Mbak Lala pinter nyanyi juga pinter ngajarin adek, tambah lagi suka banget baca. Kalo caca ga bisa diem, pecicilan dan pinter nari. Malahan sekarang sering bacain adek Mio buku cerita. Naaah, kalo Mio itu ceriwiss, pinter ngomong. Tambah lucuu. Jadinya selalu bikin bundanya pengen ketawa”

“Waaa..” ketiganya teriak dan dapet deh bundanya pelukan dan ciuman keroyokan. Alhamdulillah.

Sungguh deh, coba liat mata mereka saat kita bilang begitu. Subhanallah, gak ada binar bahagia dan bangga sejernih itu.

Alhamdulillah dapat pelajaran lagi dari anak-anak.

Bahwa kita orangtua juga harus bisa belajar menyayangi dan mencintai dengan segala perbedaan yang mereka punya. Mereka juga pingin disayang dengan cara dan penilaian yang berbeda.

Apalagi, dengan adanya saudara sekandung , mereka jadi sangat kompetitif. Sedikit-sedikit siapa yang paling duluan, siapa paling jagoan dan siapa yang paling hebat. Hihihihi …

Hayuk Ahh semangat. Membesarkan ketiga anak buat saya memang tidaklah mudah. Harus ada tricky dan strateginya juga. Makanya saya suka banget sharing dan nanya ke mama-mama lain. Kalau ketemu, jangan bosen ya diajakin ngobrol soal anak. Hahaha!

See you soon, somewhere and someday !

 

 

 

.