Sindrom Asperger hampir sering diartikan sama dengan autis. Seorang anak yang mengalami sindrom ini acapkali di sebut anak autis. Awalnyapun saya menganggap begitu. Tapi ternyata keduanya adalah hal yang berbeda dan ini saya ketahui setelah membaca beberapa artikel kesehatn dan parenting mengenai perbedaan dari dua sindrom tersebut.

Definisi Asperger bias dilihat di halaman wiki. Dan dijelaskan pula bahwa perbedaan mendasar penderita asperger dengan penderita autis adalah dilihat dari kemampuan linguistik (kemampuan untuk bertutur kata dengan baik, menggunakan kata-kata secara efektif) dan kognitif (kemampuan seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi) para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan. Bahkan mereka bisa hidup mandiri dan tidak seperti halnya penderita autis.

Informasi lain mengenai penderita sindrom asperger bias disimak pada artikel Sindrom Asperger bukan Autis

kenapa kali ini saya tertarik dengan sindrom ini? Hanya kebetulan saya pernah bertemu dengan anak yang memiliki kemampuan ‘lebih’ dibanding anak usianya di sekolaah anak saya. Di usia 3 tahun, ia sudah bias menulis dengan rapi, membaca kalimat-kalimat sulit dan sudah mencapai iqro’ 5. Daya tangkapnya luar biasa. Kemampuannya menyerap informasi dari guru juga patut diacungi 4 jempol. Tapi memang ia agak terkucil dari teman-temannya. Kalaupun ada sesi bermain bersama ia kerap di bully, di ejek, di goda hingga ia menangis. Dan satu lagi yang membuat saya sering tersenyum adalah bahasa percakapannya sehari-hari.

Pastinya orang tua yang memiliki anak ‘kelebihan’ seperti ini diberi kesabaran luar biasa dalam membimbing anak-anaknya agar bisa menjalani kegiatan sehari-harinya dengan normal.

Selamat Berjuang, Ma !