Kemarin caca ikut lomba PORSENI IGTK kecamatan Cipayung.

Kesimpulan caca malamnya adalah : “Bunda, tadi itu bukan lomba, tapi maen panas-panasan”

Oke. Caca sama sekali nggak salah. Kemarin memang sucks! Jam 7 pagi sudah banyak peserta berdatangan dan sampai jam 8 belum ada tanda-tanda acara akan dimulai. Hingga jam menunjukkan pukul 09.00.

Finally, acara dimulai. Anak-anak dibariskan sesuai gugus yang sudah disusun pihak panitia. Banyak yah ternyata . Dan gw gak liat banyak kaos oranye (panitia) bertebaran mengatur atau saling berkoordinasi antar sesama mereka atau penyedia tempat. I have a bad feeling.

Oh ya Porseni ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh IGTKI atau Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia. IGTKI ini sejajar dengan PGRI. Apa yang saya tahu ini berdasarkan pengalaman saya yang sudah menyekolahkan 2 anak di bangku TK. Porseni kemarin berlokasi di Keong Mas, TMII.

Back to the story,

Acara dimulai dengan upacara. Wah, gue harap gak akan lama demi melihat langit mulai gak bersahabat. Panas mulai terasa. Hmm tapi harapan gue belom berjodoh dengan rencana panitia karena ternyata ada banyak sambutan dari mereka-mereka yang berkostum oranye dan stupidnya lagi isinya semua sama. “Yang terhormat si A… Yang terhormat si B” dan beberapa pejabat ga penting (buat gw sih) yang WAJIB disebut pada setiap sambutan. Sementara di sudut sana gue liat para MahMud (Mamah Muda) asyik berfoto-foto mengusir kebosanan dan disisi lain anak-anak kepanasan kehausan ditemani bu guru yang rajin mengipasi dan menghibur anak-anak yang mulai rewel.

Tapi akhirnya selesai juga.

Acara berikutnya adalah atraksi DrumBand dari salah satu perwakilan sekolah. Dan Hyaaa! Serentak itu para MahMud pada melesat bagai gerombolan tawon entah dari mana untuk mengabadikan anak-anak mereka yang sedang tampil. Dan alhasil, anak-anak yang tengah baris termasuk penonton lain cuman kebagian nonton punggung. Untung gak ada yang pake backless.

Saat lomba, keributan pun dimulai. Ini acara diselenggarakan tiap tahun tapi gak ada perubahan. Semakin ancur malah. Bu guru dan beberapa orang tua kerepotan memasukkan anak-anaknya ke arena lomba. Karena antara peserta lomba dan pengantar itu 1 berbanding 5 kayaknya!! Kasian pak Satpam, nggak tahan diteriakin ibu-ibu. Eh, atau jangan-jangan malah dicolek-colek ya?

Niat gw saat itu caca harus menyelesaikan lomba setelah itu selesai. Caca yang dari semula begitu semangat kelihatan kuyu kepanasan. Sebotol air minum yang semula penuh mulai tiris. “sumukk Bunda!” teriaknya. Yaaak, untung bawa kipas.

Caca dan timnya bisa melewati lomba dengan sukses. Hasilnya menang atau kalah? Wallahu alam! Ga penting juga sih. Caca juga gak peduli. Dia malah asyik mengejar bubble ( itu lho cairan sabun yang disemprotkan dari alat (kebetulan) berbentuk ikan dan mengeluarkan banyak bubble) yang dimainkan adiknya, Mio. Yang penting caca sudah merasakan nikmatnya berlomba dengan teman-temannya. Hadiah yang paling penting buat caca saat itu ya Cuma mainan bubble itu tadi. Bahkan sudah ga kepikir mau masuk ke teater Imax karena barisan pengunjungnya sudah mengular bak orang antri sembako.

Kami pulang. Karena ayah harus menghadiri undangan relasinya siang itu.

Yahh begitu deh. Cukup sudah capek dan panas. Belum lagi lengket di badan.

Finally go Home.