Saat pertama kali membaca artikel di blog milik dagmar bleasdale tentang attachment parenting saya penasaran, apa arti lebih dalam lagi dengan istilah yang dikenalkan oleh Dr. Sears dalam blog nya. Dan seperti yang saya pahami sebelumnya istilah ini memang merujuk pada kedekatan orangtua dengan anak atas pola hubungan yang dibuat oleh keduanya.

Maksud dari kalimat ‘Attachment Parenting’ itu kalau boleh saya terjemahkan menjadi :

Ikatan istimewa antara orangtua dan anak; sebuah perasaan yang menggambarkan suatu hubungan bagai magnet yang saling tarik menarik. Hubungan yang kuat antara seorang ibu dan anaknya hingga si ibu merasa bahwa dirinya begitu lengkap,nyaman saat saling berdekatan; dan saat mereka berjauhan ada kekosongan dalam dirinya.

Kalau dikembalikan pada cara saya berhubungan dengan ketiga anak saya, saya sendiri tidak paham benar apakah yang saya lakukan merupakan salah satu implementasi dari kalimat tersebut. Kalau saya fikir lagi, rasanya semua ibu yang memiliki anak akan mengalami kedekatan dengan cara tersendiri dan manajemen waktu yang tidak persis sama. Tapi tujuan akhirnya tetap untuk membangun ikatan kuat antara keduanya.

Hubungan saya dengan #thetenris sejauh ini sangat baik, paling tidak itu yang kami rasakan. Tanpa bermaksud membuat saling memiliki ketergantungan kami sangat dekat. Kami merasa ‘kurang’ bila berjauhan. Tapi saat kami berdekatan dunia serasa komplit. Berlebihan? Tidak juga.

Alhamdulillah, saya melahirkan ketiga putri cantk saya secara normal. Sejak awal kehamilan saya mencoba untuk selalu dikelilingi orang-orang yang mengalami persalinan normal. Dengan saling bertukar cerita, tips, kemudahan-kemudahan yang dialami dan TIDAK membicarakan rasa sakit atau kekakuan, kesulitan dari proses alamiah ini. Hasilnya, saya hampir tidak mengalami rasa takut berlebihan dan itu berpengaruh pada rasa nyaman dan normalnya teknan darah saya hingga proses melahirkan. Kekawatiran kami selaku orang tua lebih ke kondisi kesehatan jabang bayi.

Rasa syukur tak terperi karena saya diberikan kesempatan menyusui ketiga putri saya. Dengan jarak mereka 2 tahun saya baru berhenti menyusui kedua anak saya sebulan sebelum melahirkan. Dan untuk si bungsu (2 tahun 3 bulan) baru 2 bulan belakangan mulai saya perkenalkan dengan formula. Menyusui buat saya sungguh proses yang menyenangkan, manakala sambil menatap wajah mereka, kuatnya sedotan di mulut mungilnya, gigitan-gigitan halus dan ekspresi kekenyangan yang lucu. Sepertinya sebentar lagi saya akan merindukan hal-hal tersebut 

Sejak anak-anak lahir, saya membiasakan tidur dalam satu tempat tidur.. Saya akan menyusuinya kapanpun si bayi meminta. Menyusui dan selanjutnya tidur. Selalu begitu. Kalau siang hari saat sudah tertidur, saya letakkan ke box bayi atau tempat tidur yang sengaja kami rendahkan. Jadi, saya bisa beraktifitas yang lain.

Setelah memasuki usia 3 bulan,si bayi mulai belajar menyangga lehernya; saat menyusui di tempat tidur saya rangsang ia untuk miring. Pelan-pelan dan dengan sabar. Saya masih percaya selaku ibu kitalah yang harus rajin merangsangnya dengan gerakan-gerakan kecil yang tentu saja akan membuat si bayi juga menikmati proses ini. ( saya pernah menemui anak seorang kawan yang usianya hampir 6 bulan tapi belum bisa miring! Padahal tidak mengalami obesitas, tapi semata-mata karena si ibu tidak melatihnya).

Dan begitu juga dengan proses-proses perkembangan selanjutnya. Peran ibu menjadi dorongan utama sibayi untuk mau bergerak dan beraktifitas. Dan tentu saja kesabaran sang ibu yang akan menentukan berhasil tidaknya proses ini.

Saya juga membiasakan untuk menggendongnya karena jujur, saya sangat menikmati proses kedekatan saat menggendongnya, menciuminya, menyentuh wajah dan tangannya bahkan sesekali saya menggigit-gigit jemari kakinya. Kalau mungkin kenalan, sahabat dan kerabat melihat saya saat itu pastilah di tas saya atau di pundak saya selalu ‘terselampir’ kain gendongan atau ‘jarik’😀. saat menggendong itulah saya bisa mengerjakan pekerjaan lainnya. Multitasking dan efisiensi waktu.

Jadi, kalau dikembalikan ke teori “Attachment Parenting” orang-orang jaman ibu dan nenek moyang kita dulu sudah melakukannya. Hanya semua dikemas kembali ke dalam metoda baru karena setelah dilakukan penelitian dan pengamatan banyak hal-hal positif yang dihasilkan dari metoda tersebut. Yang tentu saja untuk kepentingan 2 pihak utama di dalamnya, yaitu: Ibu dan anak.

So, apakah kita sudah menjalankan metoda tersebut ?

Saya tidak akan menjawab sudah, karena semua saya lakukan berdasarkan naluri saya sebagai ibu. Tidak perlu bergantung ataupun risau dengan benar-tidaknya metode-metode yang ada, tak perlu merasa segan atau kawatir saat kita menolak pendapat dan saran dari orang lain. Buang jauh-jauh bagian-bagian yang tidak penting yang tidak memberikan tambahan manfaat bagi ibu dan anak.

Berbahagialah kaum Ibu, karena diberikan anugerah indah dan momen-momen menakjubkan bersama bayi-bayi mereka.