Sore ini saya menyempatkan diri ngobrol dengan seorang tukang bakpau.

Beliau biasa mangkal di depan tempat keponakan saya les Bahasa Inggris. Saat saya mengantarnya, terkadang saya sempatkan membeli bakpau kacang hijau untuk #thetenris. Sore tadipun saya sempatkan menyambanginya di sudut jalan .

Sambil menunggu kami ngobrol sedikit tentang kegiatannya selama tahun baru kemarin. Ia bercerita bahwa ia berjualan di Taman Mini bersama seorang kawannya yang berdagang terompet.

“wah pokoknya kemarin itu rugi banyak deh, Mbak! soalnya besok paginya kan udah nggak laku. Kalaupun dijual cuman beberapa ribu aja”

“Bapak juga dagang terompet?”

“Iya. Cuma nggak banyak. Yang pasti jualan saya ya bakpau ini. Saya cuman jualan aja, dagang. Cari tambahan. Saya nggak pernh ngerayain yang namanya tahun baru, Mbak”

“Bapak dagang sendiri ? nggak ditemani anak2? Kan bisa sekalian lihat perayaan tahun baru di Taman Mini”

“Wah,anak-anak saya juga nggak ada yang ikut tahun baru-an. Jam 8 tidur ya tidur. Di keluarga sayamemang nggak pernah ada kebiasaan itu. Kami tahu kok kalau itu nggak ada di agama kita. Tahun baru kita ya Muharram jadi kalau mau pesta ya pas 1 Muharram itu”

Saya tersenyum. Si bapak masih melanjutkan lagi.

“Saya juga nggak ngerti kok mau ya orang-orang ‘ngoyo’ sampe desak-desakan, ngantri panjang, begadang sampai pagi. Nggak ada juga perubahan pas jam 12 malam itu. Kecuali kalo pas jam 12 itu tiba-tiba saya bisa jadi juragan tanah, mungkin saya baru mau deh ikutan “ lanjutnya sambil nyengir

Hehehe saya juga ikut nyengir. Waah pakk kita samaan ya. Yang bikin beda cuma pas pergantian tahun saya milih tidur tapi si bapak masih bergulat dengan dagangannya demi mencari rupiah untuk menghidupi keluarganya.

Semoga rezeki bapak nggak pergi kemana-mana ya, Pak! Tetap istiqomah dan kerja keras.

Saya pulang dengan bakpau di tangan yang tentu rasanya akan jadi lebih enak saat nanti saya makan.