Kalau hari ibu tiba, biasanya langsung banjir ucapan selamat dan doa untuk para ibu di seluruh dunia. Mulai dari yang berterima kasih, sekedar memeluk, atau kangen karena sang ibu telah lama pergi. Ada yang berurai air mata ada juga yang tidak perduli. Dan saya, termasuk yang di tengah-tengah.

Di keluarga besar saya, tradisi perayaan macam ini memang tidak ada. Tidak hanya hari ibu, tapi ulang tahun pun tidak harus dirayakan dengan sepotong kue dan tiup lilin. Biasanya cuma jadi candaan bahwa umur semakin bertambah, jadi makin tambah pula tanggung jawabnya.

Tapi setelah menikah dan memiliki #thetenris, saya jadi terbiasa dengan acara macam ini.  Ulang tahun ada kue dengan karakter kartun dan setumpuk kado-kado sederhana. Begitu juga dengan hari Ibu. Kemarin, sebelum sekolah, Tenripada dan Tenriola memeluk saya dan berucap, ‘Bunda, Selamat Hari Ibu ya’. Aduuh sampai terharu deh. Dan kemudian keduanya  memberikan sepucuk surat buat saya. manis sekali isinya.

Budaya menulis surat ini memang tidak sengaja saya terapkan. Tapi semenjak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, Tenripada memang senang menulis surat. Suratnya disimpan di meja ayah atau diselipkan di kantung baju saya. Isinya seputar permintaannya atau sekedar bilang ‘I love You Bunda, I Love You Mom’. Dan Tenriola mengikuti dengan isi suratnya masih berupa gambar dengan nama kami semua mewakili tiap orang yang digambarnya. Aiih..manis.

Ya Allah, rasanya tidak sabar menunggu surat mereka yang berikutnya! Kira-kira apa ya?