Awal saya kepengen ( baru kepengen, bercita-cita) memakai hijab adalah saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu dalam obrolan ringan di kelas 1 saya, dan dua kawan saya (laki-laki dan perempuan) sedang membicarakan masalah aurat, hijab dan kesulitan-kemudahannya. Kawan saya yang perempuan itu memang sudah mengenakan hijab sejak SMP. Subhanallah.

Saat ditanya adakah keinginan saya untuk berhijab, saya jawab yakin ‘Iya dong!’ tanpa saya perlu pikir panjang dan pikir dua kali. Tapi, setelah itu sayangnya kami tidak pernah lagi mendiskusikan hal tersebut, dan juga kami terpisah kelas. Hingga akhirnya tahun berlalu, kawan berganti , saya justru makin asyik dengan penampilan saya yang tomboy dan super cuek.

Sejak SMA hingga di bangku kuliah, dan bahkan di pergaulan bisa dihitung berapa jumlah teman perempuan saya dibanding laki-laki. Bukan ada sentimen atau permusuhan, tapi lingkungan yang membuat itu juga terjadi. Dan yang jelas faktor dari diri saya sendiri yang kurang suka dengan hal-hal yang berbau ‘feminim’ ( dalam beberapa hal masih terbawa sampai sekarang hihi). Dan niat mulia saya itu rupanya masih tersingkirkan dengan kesibukan-kesibukan saya.

Hingga akhirnya tiba hari indah itu. Hari dimana saya sama sekali tidak pernah memikirkan sedikitpun soal hijab sejak saya bangun tidur hingga siang itu tiba. Seorang kawan baik saya, Ana Basuki ( belum berhijab juga) miinta diantarkan ke tukang foto. Ana hendak berfoto dengn menggunakan hijab untuk digunakan sebagai lampiran dalam surat lamarannya ke salah satu Bank Syariah. Eh saya ikut-ikutan pakai. Enak juga. Berbekal kerudung ana, saya masih tetap memakainya hingga di kantor.

Semua rekan di kantor, kaget, terperangah, tidak percaya dan tentu saja banyak yang setuju karena mayoritas muslim di kantor tahu persis kewajiban seorang wanita muslim dalam berhijab. Dan tentu saja di rumah langsung meng-Amini niat saya ini. Alhamdulillah.

Dan besoknya , besoknya lagi dan sampai sekarang alhamdulillah Hijab masih tetap bertengger di kepala saya.

Kendala? Hmm jujur saya hampir lupa, tapi ada sih memang. Bukan dari masalah kesiapan pakaian, asesoris yang berarti kesiapan finansial juga. Tapi, lebih ke beberapa rekan (kantor) saya dan beberapa orang yang meragukan niat saya. Tapi saya tidak perduli, Hajar Terussss!!!

Satu pihak lagi yang memuji langkah yang saya ambil, Klien!! Jadi, siapa yang bilang memakai hijab membuat perempuan jadi INEXCLUSIVE ( maaf, pinjam istilah teman nih!) karena justru saat saya melindungi dengan hijab ini, sikap klien-klien dan teman-teman saya jadi lebih menghargai saya.

So, ayo ber Hijab!! Dan Rasakan Nikmatnya di sayang Allah!