Setiap kali habis mandi, #thetenris sudah tidak lagi dipilihkan baju apa yang akan dikenakan setelahnya. Termasuk tenribali juga ikut-ikutan, hanya untuk si bungsu masih perlu dipilih ulang karena ia masih sering salah mengambil kaos singlet dan celana pop (warnanya sama putih). Kalau tenripada sudah pandai memadupadankan sehingga masih ‘matching’ dan enak dilihat. Nah, yang satu lagi tenriola ini yang masih suka suka. Pokoknya lagi mau pakai baju /kaos warna apapun ya hajar terus. Gak perduli meski sering saya sarankan untuk diganti dengan warna yang senada.

‘Caca bajunya nggak matching nih..kayaknya cocok yang warna ini deh’ ujarku sambil menyodorkan beberapa pilihan.

Dan jawaban ini yang selalu dia lontarkan.

‘iihh nggak pa pa bunda. Kan nggak harus matching, yang penting pake baju kan. Kalo nggak pake kan malu’

‘ehemm’ saya senyum-senyum mendengarnya. Konsep berpakaian harus matching dan senada memang belum wajib baginya. Tapi konsep berpakaian itu supaya nggak malu, sangat sangat saya hargai karena itu pula yang saya dan ayahnya ajarkan manakala anak-anak pernah sulit dikenakan baju sehabis mandi.

Pernah saya tanya, ‘ caca kalo matching itu kayak apa sih, Nak?’

Jawabnya : ‘ itu lho bunda kayak pakde kalo mau ke masjid kan pake baju putih-putih sama topi putih’.

Okelah, jawaban yang nggak terlalu salah . Tapi jawabannya membuka mata saya lagi dan mengingatkan bahwa berpakaian rapi ataukah matching bukan sekedar untuk di rumah atau saat berpergian tapi yang kerap dilupakan adalah saat sedang berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Saat shalat kita tidak hanya memakai kaos tapi bisa menggunakan pakaian yang rapi atau malah pakaian terbaik kita.

oke deh caca! kita matching yuk pas shalat nanti