Memutuskan untuk menikah memang bukan hal yang mudah tapi juga tidak sesulit yang dibayangkan. Satu ibadah yang sangat nikmat untuk dijalani bagi saya. Bagaimana tidak? sekarang untuk menghadapi segala masalah, kesenangan, kecemasan dan juga perencanaan masa depan tidak lagi dilakukan sendiri, karena sudah bisa kita bagi dengan suami dan tentu saja dua kepala jauh lebih baik daripada hanya satu kan?

‘Aduh mbak, tapi kalau sudah menikah tuh katanya semua berubah, nggak semanis pacaran dulu. Bener gak siiiih?”

Ya iyalah, pasti berubah. Niat kita menikah itu kan bukan sekedar senang-senang, santai bermanja-manja dan berharap suami bakal melakukan semua hal buat kita, atau memenuhi apapun kemauan kita. . Hohoho kalau cuma itu jangan pernah berfikir buat menikah deh. Yg jelas, cewek ‘Cinderella’ macam ini agak susah untuk dijadikan istri.

‘Cewek ‘cinderella’ tuh apa, mbak? ‘

Pernah teman menanyakan hal ini. Ya untuk perempuan yang memimpikan pangeran baik hati, tampan, kaya raya yang akan melayaninya bak putri raja dan selalu melindunginya kapanpun diperlukan termasuk dalam kategori ini. Maaf, pernikahan itu bukan cerita indah bak dongeng tapi dituntut kedewasaan dan tanggung jawab.

‘Tapi nggak semu cowok bisa dewasa dan mau mengerti maunya kita kan , mbak?’

Makanya jangan cari cowok model Peterpan. Cowok model ini umumnya tipe cowok manja yang kurang bisa diandalkan. Apa-apa terbiasa disuapi tanpa harus usaha keras. Anak mami lah mungkin yang lebih tepat penggambarannya. Jangan sampai setelah menikah justru kita jadi ibunya.

Meski begitu setelah menikah laki-laki dan perempuan bisa beradaptasi dengan kehidupannya yang terasa berbeda.

‘Tapi saya nggak mau kebiasaan saya hilang gara-gara menikah dong!’

Kebiasaan yang mana dulu, kalau kebiasaan bangun siang, selalu minta dilayani, didengar, diperhatikan atau malah tidak menjalankan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga ya monggo mending melajang dulu.

Eh iya perempuan itu kepala rumah tangga dan suami adalah kepala keluarga. Masing-masing punya tanggung jawan dan porsi beda tapi bila dijalankan bersama dan penuh dengan kompromi bisa disejajarkan dan diseimbangkan.

Kita belajar tidak hanya dari cerita kesuksesan orang lain, tapi juga dari kegagalan-kegagalan yang pernah dialami.

Menjadi panutan bagi keluarga lain, tidak harus datang dari pasangan yang hidup awet rukun, tapi justru dari mereka yang pernah gagal dalam membina rumah tangga kita bisa banyak menela’ah sejauh mana kita sudah menjaga kehormatan dan keutuhan keluarga sendiri.