Gara-gara tambalan gigi copot kemarin saya terpaksa menyambangi dokter gigi langganan , sebelum gigi terlanjur sakit. Sengaja pagi saya sudah nongkrong di depan loket pendaftaran dengan tujuan mendapatkan nomor sekecil-kecilnya demi bisa pulang se awal-awalnya. Prinsip dasar saya sebagai ibu, nggak sanggup terlalu lama meninggalkan #thetenris di rumah.

Selama menunggu dipanggil Bu dokter, perhatian saya tersedot dengan kemunculan seorang anak perempuan. Cantik, manis, lucu dan menurut si eyang, usianya belum beranjak dari 5 tahun. Sejak kedatangannya, si anak sebut namanya Nadia, sudah menunjukkan kenarsisannya. Ini yang bikin saya sempat kagum sekaligus heran. Nadia masuk dengan pandangannya menyapu seisi ruang tunggu sambil tak lupa selalu menyisipkan senyum yang menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Seakan dia ingin menunjukkan : ‘Hello, sang bintang sudah datang!

 

Setelah itu Nadia langsung menghampiri ruang pendaftaran, masuk dan membolak-balik setiap lembar dari buku yang ada di meja petugas. Aksi sang eyang pertama-tama langsung memanggilnya dan menegurnya. Nadia bersikeras tetap dengan aktifitasnya malah berpindah ke meja lain mengutak atik kipas angin dan telepon meja. Segera sang eyang menariknya keluar dan dengan cepat si petugas loket mengunci pintu dari dalam. Beberapa ibu ikut tersenyum melihat ulahnya.

Setelah itu Nadia menghampiri seorang ibu dengan anaknya yang sedang tersenyum melihat ulahnya. Tanpa saya sangka, Nadia langsung menyambar BlackBerry si ibu dan memencet-mencet sambil bertanya dengan suara lugunya. ‘ Ini apa aja isinya, ada gambarnya nggak. Aku mau liat dong’ sambil masih asyik menjelajahi tombol keypad tanpa menggubris si eyang yang berulang kali mencegahnya berbuat itu. Sang pemilik BlackBerry membujuk dengan sopan. ‘ Jangan ya adek nanti jatuh tante gk bisa nelp dong’ katanya dengan senyum agak kecut. ( kawatir juga laaah)

 

Setelah itu, kembali Nadia asyik mondar mandir menyusuri dan memasuki seluruh ruangan di klinik itu. Masuk ruang obat, dia mencoba membuka lemari-lemari dan menarik-nariknya dengan paksa karena terkunci. Petugas di ruang obat mengusir halus namun gagal dan mengejar Nadia yang mulai melirik catatan-catatannya yang ada di meja. Buru-buru si eyang menariknya lagi, dengan agak paksa kali ini. Namun bukan Nadia namanya kalau harus menyerah. Ia kemudian sudah berdiri dengan menggunakan kursi di depan loket pendaftaran dan mencopot nomor-nomor antrian yang sudah tersusun rapi di depan loket.

 

Jangan heran, kenapa kok kesannya semua ruang mudah dimasuki? Yaa masih pagi kok sekitar jam 7.30 dimana klinik biasa beroperasi jam 9. Jadi, pintu ruangan tidak dikunci tapi karena masing-masing pintu dibuat tidak tembus pandang membuat siapapun selain petugas juga enggan masuk.

 

Kembali dengan Nadia, ia sudah asyik di salah satu ruangan yang ternyata ada beberapa peralatan dan lagi-lagi si eyang dengan susah payah mendesaknya untuk keluar. Setelah itu perhatian saya sudah agak teralihkan karena asyik ngobrol dengan seorang ibu yang anaknya demam sejak semalam. Ditengah obrolan, saya dan si ibu ternyata sama-sama bersimpati dengan Nadia, kelucuannya dan keluguannya nyaris terpinggirkan dengan tingkahnya yang menganggu aktifitas orang lain. Tanpa bermaksud menyalahkan atau menghakimi kami sama-sama bersyukur anak-anak kami tidak melakukan hal-hal seperti itu karena kami mengontrol mereka untuk tidak melakukan hal yang merugikan orang lain.

 

Ditengah asyiknya kami mengobrol tiba tiba terdengar suara keras dari mic mencari si eyang. “ haloo..ini mana ya eyangnya.. cucunya ganggu saya niiih..” saya lihat Nadia mengambil alat pengukur tensi dan menolak saat suster memintanya. Sikap Nadia yang keras kepala dan kesannya tidak tahu aturan ini yang membuat pengunjung yang semula kagum menjadi sebal. Duuh Nadia, kamu tidak pernah diajarkan sikap menghormati orang lain ya?

Setelah lama menunggu akhirnya tiba giliran saya masuk ke ruang dokter gigi. Saat saya baru membuka pintu, tiba-tiba Nadia ikut menerobos masuk. ‘Mau lihat ah!’ serunya. Saya berhenti sambil tetap memegang pintu. Saya tatap mata Nadia dan saya bicara dengan suara tegas. “ Nadia mau dicabut giginya? Ayok ikut tante. Itu bu dokter sudah siap . ayok duduk di kursi itu”. Nadia terdiam, dia pandangi saya dan bu dokter bergantian kemudian langsung keluar berlari ke arah eyangnya.

 

Maaf Nadia, seseorang harus mengajarimu untuk tahu bagaimana bersikap. Mungkin di lingkunganmu kamu terbiasa dimanja dan diperbolehkan melakukan apapun. Tapi maaf ya Nak, kamu juga harus belajar . Usia tidak menjadikan pengecualian karena tante dan banyak orang di luar sana melakukan hal yang sama pada anak-anak kami.

 

Kejadian di klinik itu membuat saya berfikir sepanjang perjalanan pulang. Saya bersyukur sekali karena meski saya dan suami bukanlah orang tua sempurna tapi kami mencoba mendidik anak-anak dengan disiplin dan kejujuran. Semoga anak-anak kami menjadi anak-anak yang baik dan bisa menghormati orang lain. Amin.