Menjadi seorang ibu saya rasa adalah keinginan setiap wanita. Bagi mereka yang belum menikah, mungkin pernah sesekali membayangkan bagaimana rasanya apabila suatu saat dianugerahi seorang anak. Bagi yang belum dikaruniai anak, doa terus dipanjatkan tanpa kenal rasa lelah. Dan bagi yang memilikinya menjadi suatu kebanggaan tersendiri .

Saat ini alhamdulillah kami sudah dianugerahi 3 putri cantik. Dan mereka memanggil kami, Ayah-Bunda.

Sebenarnya ada nggak ya alasan setiap orang tua menentukan bagaimana anak-anak akan memanggil mereka? Bagi kami, tidak ada alasan khusus. Tapi yang kami tahu pasti setiap panggilan merupakan wujud kasih sayang dan rasa hormat seorang anak bagi orang tuanya.

Jadi, bagaimanapun seorang anak memanggil orangtuanya terkandung nilai suci dan tulus di dalamnya yang patut juga layak kita hargai. Tapi, bagaimana bila orang lain selain anak kita memanggil Bunda, mama atau yang lain? Apakah ada perbedaan disetiap sebutan nama itu?

Di sekolah anak saya, para guru lebih sering membahasakan panggilan mama-papa kepada para ibu. Mungkin, karena mayoritas kami dipanggil seperti itu. No problem, toh dalam prakteknya karena kedekatan orang tua dan para guru, mereka kerap memanggil kami berdasarkan panggilan anak-anak di rumah.

Saya pernah dengar seorang kenalan yang sejak kecil memanggil orang tua perempuannya dengan sebutan ibu tapi kemudian saat sudah menginjak dewasa mengubahnya menjadi mama. Tanpa mengusik alasan dibelakang perubahan itu, tidak ada makna negatif dari hal tersebut bila dilandasi niat baik dan tidak ada muatan negatif di dalamnya.

Selain panggilan bunda ada juga yang menggunakan kata berpasangan mimi-pipi, mama-papa, mami-papi atau bahkan kawan saya menyebut diri mereka PaMut-BuMut karena anak mereka bernama Mutia. Jadi sekali lagi, pada dasarnya apapun panggillan itu tersimpan niat tulus perwujudan cinta dan kasih sayang serta hormat seorang anak terhadap orang tuanya.

Lalu, beberapa minggu lalu saya pernah membaca timeline mengenai seorang ibu yang merasa ‘terhina’ dipanggil dengan sebutan Bunda. Dan ditambah dengan ucapan berikut: “ emang gue Dorce!”

Ada yang salah dengan Bunda Dorce? Saya rasa tidak. Saya tidak ingin melihat ke masa lalunya, atau siapapun beliau di masa terdahulu karena tidak ada korelasi dengan panggilan Bunda pada beliau. Saya tidak terlalu perduli dengan itu. Saya hanya melihat apa yang dilakukan Bunda Dorce saat ini, menyantuni ribuan anak yatim,piatu bahkan yatim piatu yang mana saya belum bisa melakukan hal sehebat itu.

Banyak masyarakat dari kalangan menengah ke bawah yang tahu siapa beliau, sepak terjangnya dan bahkan acara talkshownya yang pernah laris manis di stasiun televisi. Subhanallah, semoga beliau dimuliakan dengan doa doa yang dipanjatkan semua penggemar dan kerabatnya.

Sekarang, bila kita disapa dengan panggilan Bunda oleh mereka yang bukan anggota keluarga kita masih perlukah kita tersinggung?

So, apa yang salah dengan panggilan Bunda ? saya yakin tidak ada. Apakah panggilan-panggilan itu menunjukkan kasta atau derajat seseorang? Tidak juga. Sama sekali tidak. Jadi, siapa yang salah menginterpretasikan kalau begitu?