Ada beberapa alasan mengapa sampai kelahiran anak ketiga saya memilih persalinan dibantu oleh bidan. Mungkin tidak semua alasan ini mewakili alasan semua orang tapi paling tidak ini saya dapatkan berdasarkan pengalaman saya serta pasien-pasien lainnya yang menjalani persalinan di bidan tempat saya melahirkan.

Pertama, kedekatan emosional sang bidan dengan pasiennya begitu saya rasakan hingga membuat saya nyaman, tenang dan merasa diperhatikan. Kami pasien tidak dianggap hanya sekedar pasien atau urutan nomor calon ibu yang hendak melahirkan. Secara tidak sadar para bidan ini menerapkan hubungan kedekatan antara bidan dengan pasiennya seperti produsen dengan pelanggannya. Di rumah sakit, saya pernah melihat sendiri, bagaimana seorang ibu berteriak mencari dokternya saat pembukaan jalan lahirnya sudah mendekati 5. namun sayang sang dokter tidak kunjung datang, hingga akhirnya proses persalinan yang berjalan normal dibantu oleh seorang bidan juga pada akhirnya. Ternyata saat itu sang dokter tengah melakukan operasi cesar di rumah sakit yang lain.

Kedua, saat saya datang ke klinik dan sudah menentukan kamar yang akan ditempati kami dipersilahkan langsung istirahat dan menempati kamar yang similar dengan kamar saya di rumah. Bukan kamar super mewah, tapi nyaman, sejuk dan bersih. Bersih layaknya kamar di rumah. Saat itu kami , tidak harus melakukan pembayaran apapun terlebih dahulu.

Saat saya di opname di rumah sakit dulu, saya melihatseorang calon ibu yang akan melahirkan menghabiskan waktu hingga persalinan di ruang tindakan, yang banyak di selubungi tirai pemisah serta alat-alat medis lainnya. Saat itu, saya sempet kebayang juga waduuh akan seperti inikah nanti kondisi saya?

Ketiga, suatu keadaan yang tidak pernah dapat say a dan suami lupakan adalah saat proses persalinan. Suami di sebelah kanan, dan ibu saya di sebelah kiri keduanya menggenggam saya erat (malah mungkin saya yang terlalu erat memegang tangan mereka hingga hampir lecet hehe) serta ibu bidan didampingi 2 bidan lainnya memimpin proses itu sambil mengucapkan asma Allah dan membimbing saya untuk ikut mengucapkannya. Satu saat saya pernah menanyakan ke suami apakah saat saya melahirkan saya berteriak? Alhamdulllah ternyata tidak. Kalau tidak malu juga yah hehe

Keempat, di klinik bidan Ros ini semua ibu akan sekamar dengan bayinya. Tidak peduli kelas VIP hingga kelas reguler. Di samping sang ibu telah disediakan box bayi sederhana namun bersih dan terawat. Saya sangat setuju dengan penerapan sistem ini. Setelah lahir memang jabang bayi seyogyanya di ‘pegang’ langsung oleh orang tuanya. Hikmahnya, orang tua baru akan belajar dan si bayi pun nyaman. Persis saat kelahiran putri pertama saya. Meski panik, bingung dan takut salah para bidan selalu siap membantu 24 jam. Hasilnya, saat anak kedua kami sama sekali tidak minta bantuan para bidan hehehe. Apalagi ayah yang sama sekali belum pernah merawat bayi sebelumnya jadi sangat ahli mengurus si kecil, Subhanallah!

Kelima, ini berdasarkan pengalaman mereka yang melakukan operasi cesar dalam proses kelahirannya. Bagi kelahiran yang sudah dapat direncanakan tanggalnya mungkn bukan suatu masalah tapi tidak jarang ditemui kasus kelahiran yang tiba-tiba butuh tindakan operasi. Pasutri tidak perlu kawatir sebab Bidan akan menyediakan semua keperluan mulai dari ambulance sampai dengan proses administrasi di rumah sakit. Setelah diinapkan selama 24 jam di rumah sakit akan langsung ‘ngamar’ di klinik sang bidan sesuai kamar yang dipilih.Untuk saat ini bidan Ros melakukan kerja sama dengan Rumah Sakit Pasar Rebo dan Rumah Sakit Haji untuk proses operasi cesar. Jadi, pasien tidak perlu pusing deh

Mungkin ini baru beberapa kemudahan yang bisa ditemui saat persalinan dibantu oleh seorang bidan, khususnya bidan Rosnawati tempat saya melakukan persalinan. Pastinya akan ada yang berkomentar pro atau kontra tapi yang jelas jangan pernah takut untuk memilih alternatif persalinan.

Oh ya, sedikit saya akan sampaikan saat proses persalinan selesai bidan sudah memperkenalkan proses Inisiasi Menyusu Dini sebelum proses itu sendiri berkembang dan menjadi sesuatu yang wajib dilakukan. Jabang bayi diletakkan di dada sang ibu dan mencari putting sang ibu. Dan disinilah saya pertama kali menyentuh bayi-bayi saya dan tak ada yang bisa menggambarkan perasaan saya juga suami yang mendampingi di sisi saya .

Subhanallah..allahu akbar!